Definisi Halal Dan Haram Berdasarkan Islam

Di dalam Al-Qur'an,  Allah SWT ber firman , Surat Al-Baqarah Ayat 188: Dan janganlah sebagian dari kau memakan h...

Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman , Surat Al-Baqarah Ayat 188:

Dan janganlah sebagian dari kau memakan harta sebagian yang yang lain secara batil, dan jangan pula membawa urusan harta itu kepada hakim semoga kau sanggup memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, sedangkan kau mengetahui.


Keadaan pada waktu turunnya ayat ini disebutkan dalam Ruhul-Maa’ani.
Dua orang sahabat Nabi Muhammad SAW telah berselisih soal sebidang lahan dan membawa duduk kasus itu kepada beliau. Si penuntut tidak mempunyai seorang saksipun untuk mendukung tuntutannya. Rasulullah SAW bertanya kepada pihak tertuntut, “Sanggupkah kau bersumpah demi Yang Mahakuasa bahwa lahan itu milikmu?” Ia setuju. Rasulullah SAW, selanjutnya membaca sebuah ayat dari Al-Qur’an untuk peringatan sebelum bersumpah. Yang dia baca yaitu Ayat 77 dari Surat Ali Imran:

Sesungguhnya, barangsiapa menukar janjinya kepada Yang Mahakuasa dengan sumpah-sumpah mereka demi mengambil sedikit keuntungan, maka ia tidak akan mendapatkan bab (pahala)-nya di akhirat, dan Yang Mahakuasa tidak akan berbicara dengan mereka ataupun melihat kearah mereka di Hari Pembalasan, dan tidak pula mereka akan disucikan-Nya. Bagi mereka yaitu siksaan yang pedih.

Pemilik lahan yang kini menyimak ayat tersebut dan menolak untuk mengangkat sumpah. Ia sangat takut jangan-jangan terdapat kekaburan ataupun kerancuan dalam hal kepemilikan lahan yang diperselisihkan itu dan ia tidak mau menjadi pecundang di Hari Pembalasan kelak. Selanjutnya Nabi SAW menyerahkan lahan itu kepada si penuntut. Perlu diingat bahwa ayat ini telah diturunkan untuk mencegah penguasaan atas kepemilikan orang lain secara curang/ilegal. Serupa juga dengan hal diatas yaitu ; menjiplak bukti kepemilikan / legalitas sertifikat, bersumpah palsu dan memberi kesaksian yang tidak benar, semuanya itu Haram hukumnya. Pada ayat yang terdahulu, ada hal yang sangat menarik, yakni penggunaan kata ‘Bainakum’ (=diantara kau sekalian). Yang Mahakuasa SWT mengajarkan kepada kita bahwa kalau kita menyerobot hak-milik/harta orang lain, maka perbuatan inipun sebaliknya akan juga mendorong orang lain untuk berani menyerobot hak-milik/harta kita. Sebagai contoh, kalau seseorang mencampurkan air kedalam susu, yang lain pun menjual materi kuliner yang tidak lagi murni, yang lainnya lagi menjual kurma campuran. Begitulah, masing-masing diantara mereka saling memakan harta yang lain secara batil. Jadi, sebenarnya sama halnya semakin bertambah-tambah sajalah seseorang memakan hartanya sendiri secara batil dan tak satupun yang menjadi pemenang dalam perbuatan saling mencurangi ini. Pelajaran kedua adalah, bahwa hal demikian menyakiti orang yang dirugikan hartanya, sebagaimana sakitnya kalau anda yang dirugikan. Maka, perlakukanlah harta orang lain sebagaimana kau menjaga hartamu sendiri.

Umi Salamah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Aku yaitu insan biasa sebagaimana kalian. Kalian mengadukan perselisihan diantara kalian kepadaku. Boleh jadi salah seorang diantaramu menyajikan pembelaan/alasan yang lebih besar lengan berkuasa dan mengesankan sehingga saya terarahkan untuk tetapkan sesuai keinginannya. Tetapi janganlah kalian lupa bahwa yang mengetahui yang sebenarnya hanyalah Yang Mahakuasa SWT. Jika bukan hakmu janganlah engkau ambil. Karena bisa saja yang saya serahkan kepadamu kelak menjadi sepetak daerah di Neraka.” (Bukhari dan Muslim)
Kesimpulannya, tak satupun pengadilan, walaupun itu pengadilannya Rasulullah SAW, yang sanggup mengubah yang halal menjadi haram, yang haq menjadi bathil, ataupun sebaliknya.
Banyak ayat-ayat AL-Qur’an yang membahas hal serupa. Antara lain dalam Surat Al-Baqarah Ayat 168, Yang Mahakuasa SWT berfirman:

Wahai manusia, makanlah yang halal dan baik (thayiban) dari apa-apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syeitan. Sungguh, syeitan itu musuh yang positif bagimu.

Allah SWT pun berfirman untuk hal serupa, didalam Surat An-Nahl Ayat 114:

Maka, makanlah dari rizki yang diberikan Yang Mahakuasa kepadamu yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas nikmat Yang Mahakuasa kalau benar ibadah(pengabdian)-mu hanya kepada-Nya semata.

Kedua ayat diatas sama-sama memakai istilah ‘halaalan thayiban’ (halal lagi baik). Halal artinya, apa-apa yang diperbolehkan (tanpa ada ikatan ataupun larangan). Thayib berarti, lebih dari sekedar diperbolehkan, kitapun menyukainya ataupun berselera untuk memakannya.

Sampai disini kita sanggup menyimpulkan bahwa kebajikan tidak bisa bermetamorfosis kecuali kita mengkonsumsi yang baik-baik. Nabi Muhammad SAW membuktikan ayat ini dengan menekankan bahwa perintah ini tidak hanya untuk para nabi, tetapi juga untuk para pengikutnya. Rasulullah SAW bersabda bekerjsama tidaklah diterima ibadahnya seseorang yang memakan barang yang haram. Beliaupun menambahkan: ”Banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Yang Mahakuasa kemudian mengangkat kedua tangannya seraya memohon, “Ya Allah! Ya Allah! kumohon pada-Mu, terimalah ibadahku.” Tetapi kalau makanannya haram, minumannya juga haram, pakaiannya pun haram, bagaimana mungkin do’a mereka itu akan dikabulkan?” (Muslim dan Tirmidzi)

Rasulullah SAW beberapa kali bersabda untuk menjelaskan tentang halal dan haram kepada kita umatnya yang dia kasihi. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa makan dari yang halal lantaran mengikuti sunnahku dan tidak berbuat aniaya kepada orang lain, maka ia akan memperoleh surga.” Para sahabat menanggapi, ”Ya Rasulullah, bukankah hal demikian lumrah dilakukan pengikutmu kini ini?” Rasulullah menjawab, “Dan nanti di suatu masa yang akan tiba pun banyak orang yang mengikuti sikap ini.” (Tirmidzi).

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika kau mempunyai empat sikap berikut ini, maka itu cukup bagimu, meskipun kau tidak mendapatkan laba selain itu di dunia ini:
(a) Memelihara amanah (b) berbicara jujur (c) Memperlakukan orang lain dengan baik (d) Makan dari yang halal saja.

Suatukali, Sa’ad bin Abi Waqqas RA meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendoakannya semoga doa yang ia panjatkan dikabulkan Yang Mahakuasa SWT. Maka Rasulullah bersabda kepadanya: “Wahai Sa’ad, kalau kau makan dari yang halal dan thayib, Yang Mahakuasa akan menjawab semua permohonanmu.” Rasulullah kemudian menambahkan, “Aku bersumpah demi Yang Mahakuasa yang nyawaku dalam genggaman-Nya, kalau seseorang makan sedikit saja dari yang haram, tak sedikitpun ibadahnya diterima Yang Mahakuasa SWT selama empatpuluh hari. Bilamana daging yang membentuk badan seseorang terbuat dari unsur yang haram maka hanya api neraka sajalah yang patut bagi tubuhnya.”

Mu’az bin Jabal RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Ketika kita dikumpulkan di Hari Pembalasan, tak seorangpun sanggup meninggalkan tempatnya berdiri sehingga ia menjawab lima pertanyaan berikut ini:


1. Umurnya, dimanfaatkan untuk apa selama hidupnya?
2. Masa mudanya, bagaimana ia pergunakan?
3. Hartanya, dari mana ia peroleh?
4. Bagaimana dan kemanakah hartanya ia belanjakan?
5. Ilmu yang didapat, seberapa banyakkah ia amalkan? (Al-Baihaqi)



Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang nyawaku ada dalam genggaman-Nya, Aku bersumpah bahwa belum tepat ke-Islam-an seseorang sehingga hati dan lisannya menjadi Muslim dan tetangganya merasa kondusif dari segala bentuk ancaman yang bisa ia timbulkan. Ketika seseorang mempunyai harta yang haram dan disedekahkannya maka Yang Mahakuasa tidak menerimanya. Jika dibelanjakannya tidak akan berkah. Jika ditinggalkannya untuk penerusnya berarti ia meninggalkan sesuatu yang membangun jalan menuju Api neraka. Yang Mahakuasa tidak akan menghapuskan perbuatan jelek dengan perbuatan jelek yang lebih banyak. Tetapi Yang Mahakuasa menghapuskan perbuatan jelek dengan perbuatan baik.”

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menasehati sekelompok pendatang dan bersabda: ”Aku memohon dukungan Yang Mahakuasa dan berharap bahwa 5 sikap ini tidak terdapat diantara kalian:

  1. Ketika tersebar sikap yang memalukan atau sikap serba-boleh (permisif) ataupun sikap bertelanjang, atau pelanggaran aturan berbusana islami dalam sebuah kelompok, maka Yang Mahakuasa SWT akan menimpakan kepada mereka wabah penyakit dan sejenisnya yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh leluhur mereka.
  2. Ketika orang-orang mencurangi timbangan (menilap hak orang lain sebagaimana pernah dilakukan oleh umat Nabi Syuaib AS), maka Yang Mahakuasa SWT akan mendatangkan kekurangan pangan dan biaya hidup yang mahal. Merekapun mengalami deraan fisik yang berkesangatan melelahkan serta kesewenang-wenangan dari para penguasa mereka.
  3. Jika mereka tidak membayar zakat, maka akan berakibat terhentinya hujan untuk lahan mereka dan menjadikan krisis ekonomi.
  4. Jika mereka melanggar ketetapan Yang Mahakuasa SWT dan Rasul-Nya SAW, maka dikirimkan-Nya musuh dari luar yang mengeruk kekayaan mereka secara paksa.(Jelas sekali inilah satu dari alasannya yaitu mengapa muslim seluruh dunia berada dalam penderitaan pada ketika ini)
  5. Jika para pejabat mereka tidak menciptakan keputusan menurut petunjuk Yang Mahakuasa SWT didalam Al-Qur’an, maka Yang Mahakuasa ciptakan perseteruan diantara mereka dan mereka senantiasa bertikai dengan sesama mereka sendiri. (Ibnu Majah)

Semoga Yang Mahakuasa SWT menyelamatkan kita dari kepedihan-kepedihan tersebut tadi.
Jelaslah sudah bahwa banyak sekali acara seremonial dan ritual tidak akan menyatukan Umat Muslim. Umat Muslim hanya akan dipersatukan kalau patuh mengikuti cara-cara Halal.
Sangatlah menarik kalau kita simak lagi Surat Al-Baqarah Ayat 188, dimana ayat tersebut terletak tepat sehabis ayat yang memuat rincian perintah Shaum (puasa), dimana selama waktu berpuasa beberapa hal tertentu yang Halal pun dihentikan untuk kita kerjakan.

Dengan demikian tujuan berpuasa yaitu untuk mendisiplinkan dan menimba pengalaman mengekang diri sendiri dalam hal pemanfaatan sesuatu yang halal. Didalam puasa terasa betapa besar nilai keteguhan hati dan kesabaran. Pengalaman inilah yang bisa dipakai seseorang untuk bisa menolak sama sekali segala sesuatu yang haram.
Selebihnya, ketika seseorang akan berbuka puasa maka ia haruslah menyiapkan kuliner yang halal. Jika ia berbuka dengan yang haram maka puasanya tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Terakhir namun tak kalah pentingnya adalah, kriteria halal dan haram haruslah menurut ketetapan Allah SWT semata. Penetapan menurut selain Allah SWT, semisal konferensi ataupun persetujuan internasional, tidaklah akan bisa menuntaskan permasalahan mengingat bahwa impian banyak sekali kelompok akan diwarnai oleh kepentingan masing-masing. Sama halnya, persetujuan yang dibentuk dibawah tekanan perorangan maupun urusan dalam negeri tidaklah bersifat imparsial (bebas kepentingan) dan oleh kesannya menjadi tidak sah (bathil). Hanya hukum Allah SWT sajalah yang bersifat adil senantiasa terhadap semua yang berkepentingan.


Sebagaimana telah disebutkan tadi bahwa Yang Mahakuasa SWT sendirilah yang tetapkan halal dan haram. Bahkan tidak seorang Nabi pun di masa kapan pun yang diberi mandat/kewenangan untuk menciptakan ketetapan. Tidak ada celah dalam sistem Yang Mahakuasa SWT, sistem-Nya benar-benar Sempurna.

Semoga Yang Mahakuasa SWT menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk tetap bertahan pada yang halal dan menjauhkan kita dari keadaan yang tidak ada kejelasan dan mencurigai (syubhat). Amiin.

?max-results=7">News

" });
Nama

2013 2014 2015 Akhlak aneh tapi nyata bahasa indonesia baitullah baju wanita baru berita Berita aneh Berita Unik bisnis online Bola BUKU busana muslimah cerita Cerita Cerita Motivasi Cerita Motivasi Cerita Nabi CERPEN CPM cuci otak Do'a Fashion Film Fiqih foto gadged Game Happiness Hikmah hp ilmuan Informatika Inspirasi Internet Islam jual link ka bah karya caknun Kata Kata Kata Mutiara Kesehatan Keuangan Kisah Sukses Kisah Teladan Komputer lainnya LifeStyle lucu makalah menulis artikel Motivasi Motivasi Humor MotoGP News NOVEL Paket Internet payment PUISI Ramadhan Religi Resep Masakan Review Sejarah Sejarah Ulama Sukses Tekno Tips TOKO BUKU Top 5 Travel trend 2018 Trik/Cara Tugas tulisan caknun (MH Ainun najib) tulisanku tutorial Blog Ucapan ucapan/kata2 Umum unik Viral warkop surabaya Wisdom
false
ltr
item
pelangi pagi: Definisi Halal Dan Haram Berdasarkan Islam
Definisi Halal Dan Haram Berdasarkan Islam
pelangi pagi
http://www.pelangipagi.science/2014/09/definisi-halal-dan-haram-berdasarkan_27.html
http://www.pelangipagi.science/
http://www.pelangipagi.science/
http://www.pelangipagi.science/2014/09/definisi-halal-dan-haram-berdasarkan_27.html
true
3296759902926188989
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy